I am just ordinary girl who is learning to write on blog.. Thank's for your visit :)
Kamis, 17 Mei 2012

Pengaruh Budaya Asing (Korea) Terhadap Budaya dan Generasi Bangsa Indonesia

"Pengaruh Budaya Terhadap Budaya dan Generasi Bangsa Indonesia"
Itu sebenernya tema tugas pidatoku, dan sengaja tak share di sini.. hehee.. kira-kira isinya gini.


Seperti yang kita ketahui, di era globalisasi ini kebudayaan dapat menyebar dengan mudah. Coba kita lihat berita yang beberapa hari belakangan tengah hits di televisi dan media masa? Jawabannya tak lain adalah tentang kedatangan dan konser Boyband Super Junior di Indonesia. Beberapa tahun terakhir demam Korea memang telah melanda Indonesia. Budaya kontemporer Korea dalam tren Korean Wave semakin merasuki remaja dan generasi muda. Mulai dari aliran musik, style hingga film. Budaya Korea digandrungi sebagian besar karena keindahan gaya, penampilan dan fisik aktornya serta alur cerita film yang dramatis dan unik. Pengaruh Korean Wave sukses masuk ke dalam dunia hiburan Indonesia dan menjadi tren yang diminati banyak orang, khususnya kawula muda atau remaja. Contoh konkritnya kini banyak Boyband dan Girlband bermunculan dan sebagian besar berkiblat dan meniru pada Boyband dan Girlband Korea.
Dikarenakan kecintaan atau bahkan fanatikme, tak jarang penggemar budaya Korea mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk memuaskan diri atas kecintaannya akan Korea, seperti untuk membeli pernak-pernik berbau Korea, atau seperti yang belakangan sedang heboh yaitu konser Boyband Super Junior di Indonesia. Penggemar musik Korea atau biasa disapa K-Popers berbondong-bondong menonton konser itu, tiket yang cukup mahal tidak menghalangi antusiasme K-Popers untuk menonton idola mereka secara langsung. Mungkin untuk mereka yang berasal dari keluarga yang berlebih itu bukan masala besar, tetapi bagaimana dengan mereka yang berasal dari keluarga biasa? Mereka yang fanatik dan berasal dari keluarga biasa bisa saja melakukan hal yang kurang baik untuk mendapatkan uang untuk memenuhi apa yang mereka mau, misalnya menjual harta yang dimiliki atau mungkin merajuk pada orang tua untuk menuruti kehendak mereka. Bukankah hal seperti itu ironis?
Lalu bagaimana dengan budaya yang bersifat lokal? Apakah antusiasme remaja menonton setinggi antusisme mereka menonton konser Super Junior? Ketika ada penampilan budaya yang bersifat lokal seperti pertunjukan tari, teater tradisional dan lainnya yang biayanya dapat dijangkau malah jarang peminatnya, apalagi remaja. Sebagian besar remaja kini menganggap budaya lokal seperti itu kuno, ketinggalan zaman. Pernyataan seperti itu muncul karena mulai bergesernya kiblat budaya bangsa. Kini generasi muda lebih banyak berkiblkat pada dunia luar, padahal kita ketahui tidak semua budaya luar dapat diterapkan di Indonesia karena tidak sesuai dengan karakter bangsa.
Di sini saya tidak bermaksud memojokkan mereka yang menggandrungi K-Pop ataupun Korean Wave, hanya saja yang menjadi masalah adalah sebagian besar penerima Korean Wave merupakan remaja sebagai generasi muda bangsa. Akan menghawatirkan apabila penerimaan budaya Korea ini tidak diimbangi dengan apresiasi terhadap budaya asli bangsa kita. Jika itu terjadi, maka eksistensi dan jati diri budaya bangsa akan perlahan luntur. Sebagian besar penerima budaya luar hanya melihat dari hasilnya tanpa melihat prosesnya. Untuk itu perlunya keseimbangan, kita menikmati suguhan hiburan yang ditawarkan. Akan tetapi bukan hanya para pelakunya yang kita gandrungi karena penampilan dan fisiknya yang menawan, tetapi kita pelajari bagaimana mereka bisa menjadi seperti itu? Bagaimana budaya Korea bisa dikenal dan diterima di berbagai negara? Dengan itu diharapkan kita dapat mengambil dan menerapkan ilmu-ilmu atau metode yang ada untuk eksistensi budaya kita sendiri.
Memang, kita tak bisa menghindari atau menghalangi masuknya budaya luar di era globalisasi ini. Untuk itu perlu kesadaran diri tentang bagaimana menyikapi budaya luar yang masuk. Kita harus bisa menyaring apa yang kita terima, bukan hanya hasil budaya yang dipelajari, tetapi juga proses bagaimana budaya itu bisa mendunia. Tentu saja, mengubah kondisi ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, untuk itu kita mulai dari diri sendiri. Ketika kita telah bisa memperbaiki diri sendiri, barulah kita bisa mempengaruhi orang-orang yang ada di sekitar kita untuk menjadi lebih baik. Semoga semua pihak (terutama pendidikan) memiliki kesadaran bersama bahwa budaya Korea ataupun budaya luar lainnya bisa jadi merupakan tantangan besar pembangunan karakter generasi muda bangsa.


Ya jadi isinya kaya gitu, maaf kalau ada pihak yang merasa tersinggung.. Sebenernya tujuanku ngeshare ini cuma buat meningkatkan kesadaran dan kebanggaan kita akan budaya bangsa..

"I just try to open your eyes.. hope it can be useful for you.."


0 komentar:

Poskan Komentar

 
;